Hujan deras di luar sana seolah berlomba dengan detak jantungku yang berpacu. Aku baru saja sampai di depan pintu rumah tua itu setelah tiga tahun merantau. Rumah yang dindingnya kini semakin mengelupas, namun selalu berhasil memanggilku pulang dalam mimpi.
Dengan tangan gemetar, aku mengetuk. Tok, tok, tok.
Tak ada jawaban. Mungkin Ibu sedang di dapur, pikirku. Aku mendorong pintu kayu itu perlahan. Wangi tanah basah bercampur aroma kunyit dan sereh langsung menyergap indra penciumanku—aroma yang telah menjadi definisi “pulang” bagiku.
“Ibu?” panggilku pelan.
Dari arah dapur, sosok wanita dengan punggung yang semakin membungkuk muncul. Rambutnya yang dulu hitam legam kini telah berubah warna menjadi perak merata, seperti kapas yang tertiup angin. Saat ia berbalik, sebuah sendok kayu terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan suara dentang yang nyaring.
Mata Ibu melebar. Ia tidak langsung berlari. Ia berdiri terpaku, jemarinya meremas kain daster yang sudah pudar warnanya. Detik itu seolah terhenti. Aku melihat kerutan di sudut matanya yang semakin dalam, jejak dari ribuan hari yang ia lalui tanpa kehadiranku.
“Nak?” suaranya parau, hampir seperti bisikan angin.
Aku tidak sanggup menahan diri lagi. Aku berlari dan memeluknya. Tubuhnya terasa begitu kecil, rapuh, dan hangat. Ibu tidak membalas pelukanku dengan erat seperti dulu; tangannya yang kasar—penuh bekas luka bakar dari wajan dan jejak kerja keras di sawah—hanya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut, seolah ia takut aku akan hancur jika ia memeluk terlalu kencang.
Di balik bahunya, aku melihat dapur yang sederhana. Di atas meja, terdapat sepiring nasi hangat dan sambal goreng tempe—masakan kesukaanku. Ibu tidak pernah tahu kapan aku pulang, namun setiap hari, ia selalu memasak makanan yang sama. Menunggu dengan keyakinan yang tak pernah luntur oleh waktu.
“Ibu sudah masak,” bisiknya, melepaskan pelukan dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang gemetar. “Kamu kurus sekali, apa di sana tidak ada orang yang memikirkanmu sampai-sampai kamu lupa makan?”
Air mataku jatuh tanpa izin. Di dunia yang begitu luas dan kompetitif ini, di mana orang-orang menilai keberhasilanku dari angka di rekening atau jabatan, hanya Ibu yang menanyakan hal sesederhana, “Sudah makan?”
Ternyata, sejauh apa pun aku melangkah, aku hanyalah seorang anak yang butuh kembali ke rumah untuk mengisi energi di pelukan wanita yang menganggap keberadaanku adalah satu-satunya hal yang paling berharga di dunia.
“Ibu,” kataku sambil menggenggam tangannya erat. “Sekarang, aku yang akan memikirkan Ibu.”
Malam itu, di rumah tua yang hangat, hujan masih turun dengan deras, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku terasa sepenuhnya teduh.


Tinggalkan Balasan