Home / Berita /

Menjadi Pelajar Insani

Artikel SMA MUDA

Bobotsari, 20 Oktober 2025 — Kegiatan apel pagi di SMA Muhammadiyah 2 Bobotsari pada hari Senin, 20 Oktober 2025 berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Seluruh siswa, guru, dan karyawan mengikuti kegiatan rutin ini dengan tertib di halaman sekolah. Pada kesempatan kali ini, Bapak Wahyu Susanto, S.Kom. bertugas sebagai pembina apel dan menyampaikan amanat yang sarat nilai moral dan spiritual dengan tema “Menjadi Pelajar Muslim yang INSANI.”

Dalam amanatnya, Bapak Wahyu menjelaskan bahwa seorang pelajar muslim harus memiliki ciri khas yang membedakannya dengan pelajar lain, yaitu menjadi pribadi insani. Secara bahasa, kata insani berarti memiliki jiwa kemanusiaan, tetapi dalam konteks amanat pagi ini, insani merupakan singkatan dari Inspiratif, Santun, dan Islami.

Beliau menjelaskan bahwa “Inspiratif” berarti seorang pelajar muslim harus memiliki ide dan gagasan positif serta mampu menginspirasi orang lain untuk meneladani perbuatannya. Seorang pelajar yang inspiratif tidak hanya berpikir baik, tetapi juga mampu bertindak dan memberi contoh kebaikan kepada teman-temannya. Bapak Wahyu mengutip sabda Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya menjadi pelajar yang “Santun”, karena kesantunan merupakan cerminan adab dan akhlak seorang muslim. Sikap santun mencakup tutur kata yang baik, menghormati guru dan orang tua, serta berperilaku sopan terhadap siapa pun dan di mana pun berada. “Santun harus menjadi budaya, bukan hanya sekadar formalitas,” tegas beliau.

Bagian terakhir dari insani adalah “Islami.” Seorang pelajar yang islami tidak hanya menjaga ibadah dan perilaku, tetapi juga menjaga lingkungan dan kebiasaannya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Beliau mencontohkan bahwa pelajar laki-laki hendaknya tidak merokok, siswi perempuan sebaiknya tidak memakai riasan berlebihan, serta seluruh siswa diharapkan menjauhi perilaku pacaran yang dapat mengganggu fokus belajar dan merusak nilai moral. “Pelajar Islami adalah mereka yang mampu menjaga diri dan lingkungannya agar tetap berada dalam kebaikan,” ujar Bapak Wahyu.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan pesan penuh makna, “Raihlah cinta dari Sang Pencipta, karena ketika cinta dari Sang Pencipta sudah kau punya, maka cinta dari pria dan wanita manapun akan terasa biasa saja.” Pesan ini disambut tepuk tangan hangat dari seluruh peserta apel, meninggalkan kesan mendalam dan motivasi spiritual bagi seluruh siswa untuk terus menjadi pelajar yang Inspiratif, Santun, dan Islami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *