Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia. Oleh karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan ibadah seperti salat, puasa, dan zakat, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah satu bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat adalah politik. Dalam pandangan Islam, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat.
Sayangnya, masih banyak umat Islam yang menganggap politik itu kotor sehingga memilih menjauh darinya. Padahal, jika orang-orang baik meninggalkan politik, maka ruang tersebut bisa dikuasai oleh orang-orang yang tidak amanah. Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak berpihak kepada rakyat dan bahkan dapat merugikan masyarakat luas. Karena itulah, muslim perlu memiliki kepedulian terhadap politik agar dapat ikut menjaga arah kehidupan bangsa sesuai nilai-nilai kebaikan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat tersebut menjelaskan pentingnya amanah dan keadilan dalam kepemimpinan. Politik yang baik harus dijalankan oleh orang-orang yang amanah, jujur, dan adil. Jika umat Islam tidak peduli terhadap politik, maka akan sulit menghadirkan pemimpin yang memiliki akhlak mulia dan tanggung jawab terhadap rakyatnya.
Selain itu, Allah SWT juga berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini menjadi dasar bahwa umat Islam memiliki kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar di zaman sekarang dapat dilakukan melalui partisipasi politik, seperti memilih pemimpin yang baik, mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan kritik dengan santun, dan ikut menjaga keadilan sosial.
Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Ketika beliau memimpin Madinah, Rasulullah berhasil membangun masyarakat yang damai, adil, dan saling menghormati meskipun terdiri dari berbagai suku dan agama. Dalam Piagam Madinah, Rasulullah mengajarkan pentingnya musyawarah, persatuan, dan perlindungan hak masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat memperhatikan tata kelola kehidupan sosial dan kenegaraan.
Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa pemimpin yang baik akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Oleh sebab itu, umat Islam harus peduli terhadap proses lahirnya pemimpin yang baik melalui partisipasi politik yang sehat dan bertanggung jawab.
Dalam konteks Islam, khususnya Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah mengajarkan bahwa warga Muhammadiyah harus menjadi muslim yang berkemajuan. Artinya, umat Islam tidak boleh hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga harus peduli terhadap persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan bangsa. Muhammadiyah memang bukan partai politik, tetapi Muhammadiyah memiliki perhatian besar terhadap moral politik bangsa. Muhammadiyah mendorong umat Islam agar aktif menciptakan kehidupan yang adil, makmur, dan bermartabat.
Keterlibatan muslim dalam politik tidak harus selalu menjadi pejabat negara atau anggota partai. Seorang pelajar juga dapat ikut berpolitik secara positif, misalnya belajar demokrasi melalui organisasi sekolah, menghargai pendapat orang lain, bermusyawarah, serta tidak mudah terpengaruh berita hoaks dan ujaran kebencian. Sikap-sikap tersebut merupakan bagian dari pendidikan politik yang sehat dalam Islam.
Di era modern sekarang, tantangan politik semakin besar. Banyak informasi palsu, politik uang, fitnah, dan perpecahan yang dapat merusak persatuan bangsa. Karena itu, umat Islam harus menjadi contoh dalam berpolitik secara santun, jujur, dan mengutamakan persaudaraan. Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat sesama muslim saling membenci dan memutus tali silaturahmi.
Sebagai generasi muda muslim, kita harus memahami bahwa politik dapat menjadi sarana ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Ketika seorang muslim ikut memperjuangkan keadilan, membantu rakyat kecil, menjaga persatuan bangsa, dan memilih pemimpin yang amanah, maka hal tersebut termasuk bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Dengan demikian, pentingnya muslim ikut politik adalah agar nilai-nilai Islam seperti kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian sosial dapat hadir dalam kehidupan masyarakat. Politik bukan sesuatu yang harus dijauhi, tetapi harus diperbaiki dengan akhlak dan nilai-nilai Islami. Jika umat Islam aktif dan bijak dalam politik, maka akan lahir pemimpin yang baik dan tercipta masyarakat yang adil, damai, serta sejahtera.


Tinggalkan Balasan